Metode Mauidhah Nabi

 



Abstrak


Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk menginformasikan tentang metode mauidhah nabi. Artikel ini juga akan menganalisis hadits dari segi sanad dan juga segi matan. Proses analisis ini merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui keshahihan suatu hadits. Dianalisis dari sanadnya bersambung hingga Rasulullah atau tidak, terdapat perawi yang cacat atau tidak, dan juga mengenai keanehan perbedaan matan. Artikel ini muncul sebagai ilmu tambahan tentang empat metode dakwah Rasulullah melalui hadits – hadits. Hal-hal lain yang belum bisa dianalisis, semoga bisa segera dianalisis oleh peneliti yang lain.


Pendahuluan


            Dakwah merupakan segala aktivitas dan kegiatan yang mengajak orang untuk berubah dari satu situasi yang mengandung nilai kehidupan yang bukan Islami kepada nilai kehidupan yang Islami.Aktivitas dan kegiatan tersebut dilakukan dengan mengajak, mendorong, menyeru, tanpa tekanan, paksaan, dan provokasi dan bukan pula dengan bujukan dan rayuan pemberian sembako dan sebagainya.[1]


Metode mauidhah nabi adalah cara Rasulullah berdakwah melalui lisan atau yang biasa dikenal dengan bil lisan. Segala sesuatu yang disampaikan oleh Rasulullah baik itu berupa wahyu, perkataan, sunnah, akhlak dan juga perilaku merupakan dakwah nabi yang bertujuan untuk memberikan contoh yang baik dan juga mengajak umatnya dalam kebaikan. Rasulullah menjadi teladan utama yang harus ditiru dalam berdakwah. Dakwah Islam tidak dapat memutuskan hubungan dengan Nabi Muhammad SAW sebagai rujukan untuk melakukan dakwah. Sejarah hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW merupakan contoh terbaik bagi kehidupan masyarakat.


Rasulullah merupakan sosok yang paling ideal yang menjadi contoh dan panutan dalam segala hal.Ia adalah seorang sahabat yang baik hati, juga seorang pemimpin yang bijak, seorang suami yang sayang keluarga. Misi utama dakwah Rasulullah adalah mewujudkan kemaslahatan semesta dari semua prinsip dan nilai-nilai universalitas Islam. Islam sebagai suatu nilai-nilai yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam segala aspeknya dan bukan Islam yang dipahami sebatas simbol dan ritual peribadatan semata. Dakwah Islam merupakan perjuangan jihad di jalan Allah.[2]


            Rasulullah menjadi role model semua umat islam dalam berdakwah. Metode – metode dan cara – cara beliau berdakwah telah diceritakan melalui hadits – hadits shahih yang sanadnya sudah pasti tersambung pada Rasulullah. Tentunya metode dan cara ini bisa dijadikan contoh dan patokan umat islam dalam berdakwah. Dalam artikel ini, ada empat metode dakwah nabi yang diceritakan dalam hadits yaitu hadits riwayat muslim nomor 126, 1328, 5027 dan 713.


Isi


Pengertian Metode Mauidhah

Metode berasal dari bahasa jerman yaitu methodica, artinya ajaran tentang metode. Dalam bahasa yunani metode berasal dari kata methodos artinya jalan yang dalam bahasa arab disebut thariq. Maka metode berarti cara yang telah diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud.[3]


Kata mauidhah berasal dari kata wa’adza ya’idzu wa’dzan ‘idzatan yang berarti nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan. Adapun pengertian secara istilah, ada beberapa pendapat antara lain :


1. Menurut Hasanuddin dalam “Hukum Dakwah” yang dikutip oleh Wahidin Saputra Al-Mauidhah Al Hasanah adalah perkataan-perkataan yang tidak tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberikan nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan Al-Qur’an.


2. Menurut Abdul Hamid Al Bilali dalam ‘’Fiqh Ad Dakwah fi Inkar Al-Mungkar’’ yang dikutip oleh Wahidin Saputra : Mauidhah Al-Hasanah merupakan salah satu manhaj atau metode dalam dakwah untuk mengajak kejalan Allah dengan memberikan nasihat atau membimbing dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik.[4]


Maka dapat diambil kesimpulan pengertian metode mauidhah adalah metode dakwah yang mengajak manusia dengan memberi pelajaran dan nasihat yang baik, yang dapat membangkitkan semangat untuk mengamalkan syari’at islam. Aplikasi metode ini, bisa berupa bahasa lisan, tulisan, percontohan (suri tauladan).[5]


Klasifikasi Mauidhah

Berdasarkan pengertiannya, mauidhah dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, yaitu :


1. Nasihat atau Petuah


Secara terminologi, nasihat adalah memerintah atau melarang atau menganjurkan yang dibarengi dengan motivasi dan ancaman. Pengertian nasihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah memberi petunjuk kepada jalan yang benar juga berarti mengatakan sesuatu yang benar dengan cara melunakkan hati. Nasihat harus berkesan dalam jiwa dengan keimanan dan petunjuk.[6]


      Metode dalam memberikan nasihat bisa dengan langsung menasehati untuk berbuat amal shaleh yang bermanfaat dan terkadang pula bisa dengan cara memberikan nasihat dengan motivasi dan ancaman.


2. Kisah – Kisah


Al-Quran selalu menggunakan cara kisah-kisah dalam menyampaikan kebenaran. Hal yang sangat jelas adalah kisah-kisah yang disampaikan Al-Quran mengenai umat terdahulu selalu memberikan pelajaran yang sangat mahal bagi umat berikutnya. Allah tidak pernah bosan mengulang-ulang kisah kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’aun, supaya manusia yang hidup sesudahnya tidak mengikuti perbuatan mereka. Tidak hanya itu, mengenai hari kiamat, surga, dan neraka, selalu Allah ulang-ulang dalam Al-Quran. Itu tidak lain agar manusia terketuk hatinya lalu bergerak mengisi usianya dengan amal shaleh.[7]


Metode kisah (historical method) dijadikan cara untuk menyampaikan pesan-pesan islam oleh para mubalig, terutama ketika memperingati acara Maulid Nabi, acara memperingati Isra’ Mi’raj dan ketika melaksanakan pengajian yang memerlukan ilustrasi penjelasan dengan kisah, seperti kisah Nabi dan Umi Maktum, kisah persahabatan Nabi dan para sahabat terdekatnya ketika dalam keadaan panik. Termasuk kisah bagaimana sikap Isa a.s. terhadap umatnya yang sangat disayanginya.[8]


3. Kabar Gembira dan Peringatan (Tabsyir wa Tandzir)


Tabsyir dalam istilah dakwah adalah penyampaian dakwah yang berisi kabar-kabar yang menggembirakan bagi orang-orang yang mengikuti dakwah.


Tandzir menurut istilah dakwah adalah penyampaian dakwah dimana isinya berupa peringatan terhadap manusia tentang adanya kehidupan akhirat dengan segala konsekuensinya.[9]


4. Wasiat


Pengertian wasiat dalam konteks dakwah adalah ucapan berupa arahan (taujih) kepada mad’u terhadap sesuatu yang belum dan akan terjadi (amran sayaqa mua’yan). Materi wasiat yang diberikan kepada objek dakwah adalah materi wasiat berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits.


 


Metode Mauidhah Nabi

Rasulullah SAW menggunakan metode mauidhah dalam berdakwah. Adapun metode-metode tersebut sudah dijelaskan dalam hadits-hadits dan dibagi pada empat poin, yaitu :


1. Pengulangan ; HR. Muslim No. 126

صحيح مسلم ١٢٦: حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ بُكَيْرِ بْنِ مُحَمَّ النَّاقِدُ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَال كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَوْ قَوْلُ الزُّورِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَّكِئًافَجَلَسَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَالَيْتَهُ سَكَتَ


Shahih Muslim 126 : Telah menceritakan kepadaku Amru bin Muhammad bin Bukair bin Muhammad An-Naqid telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ulayyah dari Sa'id Al-Juraiji telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Bakrah dari bapaknya dia berkata, "Saat kami di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu bersabda : "Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar? Yaitu tiga perkara, yaitu mensyirikkan Allah, mendurhakai kedua ibu bapak, dan bersaksi palsu atau kata-kata palsu.’’ Saat itu beliau sedang bersandar lalu duduk. Beliau terus mengulangi sabdanya sehingga kami berkata ‘’Semoga beliau berhenti.”


     


Hadits ini memiliki banyak kandungan di dalamnya tetapi yang akan disorot dalam artikel ini adalah mengenai Rasulullah yang tidak berhenti mengulang-ngulang apa yang beliau ucapkan. Di akhir hadits sudah tertera bahwa Abdurrahman bin Abu Bakrah berharap Rasulullah berhenti mengulang-ngulang apa yang beliau ucapkan. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa Rasulullah menggunakan metode pengulangan dalam berdakwah yang bertujuan untuk menekankan pesan dakwah yang beliau sampaikan. Terkadang ada beberapa mad’u yang tidak dapat memahami suatu hal yang hanya diucapkan sekali sehingga menjadi hal yang sangat penting bagi da’i untuk menggunakan metode pengulangan seperti yang telah Rasulullah contohkan.


      Pengulangan tidak hanya digunakan untuk menekankan pesan dakwah tetapi juga untuk menitik beratkan pada poin-poin tertentu. Seperti halnya pada hadits ini, Rasulullah menekankan bahwa menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, dan berbohong atau bersaksi palsu adalah dosa besar.


     


2. Permisalan ; HR. Muslim No. 1328


صحيح مسلم ١٣٢٨: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي عَوَانَةَ قَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ و حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ شُعْبَةَ كِلَاهُمَا عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ هَمَّامٍ بَدَلَ الْمُنَافِقِ الْفَاجِرِ




Shahih Muslim 1328 : Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Abu Kamil Al Jahdari keduanya dari Abu 'Awanah -Qutaibah- berkata telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Qatadah dari Anas dari Abu Musa Al Asy'ari ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur`an adalah seperti buah Utrujah, baunya harum dan rasanya juga enak. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti buah kurma, baunya tidak semerbak, namun rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur`an adalah laksana buah Raihanah yang baunya harum namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah, baunya tidak wangi dan rasanya juga pahit." Dan telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid telah menceritakan kepada kami Hammam -dan dalam jalur lain- telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Syu'bah keduanya dari Qatadah dengan isnad ini semisalnya. Hanya saja di dalam hadits Hammam, kata munafik ia ganti dengan Fajir (orang yang berdosa).


     


Pada hadits ini, Rasulullah menggunakan metode permisalan dalam berdakwah. Permisalan ini ditujukan untuk kaum mukmin dan kaum munafik yang membaca Al-Qur’an. Orang mukmin yang membaca Al-Qur’an diumpamakan seperti buah utrujah yang baunya harum serta rasanya yang manis. Sementara orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak memiliki bau semerbak namun rasanya manis. Orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah raihanah, baunya yang wangi namun tidak dengan rasanya yang pahit. Sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah hanzhalah yang baunya tidak sedap dan rasanya juga pahit.


      Metode permisalan ini digunakan untuk menyamakan atau memberikan contoh realita untuk menyampaikan sebuah pesan dakwah. Karena terkadang, mad’u kurang bisa memahami pesan dakwah yang disampaikan sehingga da’i harus bisa memberikan contoh dengan sebuah permisalan kehidupan sehari-hari yang melibatkan mad’u di dalamnya.


 


3. Teka – Teki ; HR. Muslim No. 5027


صحيح مسلم ٥٠٢٧: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَقَالَ هِيَ النَّخْلَةُ قَالَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعُمَرَ قَالَ لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَ هِيَ النَّخْلَةُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا




Shahih Muslim 5027 : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub, Qutaibah bin Sa'id dan Ali bin Hujr As Sa'di, teks milik Yahya, mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ja'far telah mengkhabarkan kepadaku Abdullah bin Dinar ia mendengar Abdullah bin Umar berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : ‘’Sesungguhnya di antara pepohonan ada sebuah pohon yang daunnya tidak gugur, itu seperti orang mukmin, katakan padaku pohon apa itu?’’ Abdullah berkata: Orang-orang mengira pohon padang pasir sementara aku mengiranya pohon kurma. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : ‘’Ia pohon kurma" tapi aku malu mengatakannya. Abdullah berkata : ‘’Aku beritahu Umar apa yang aku kira lalu Umar berkata : Sungguh kau mengatakannya itu lebih aku sukai dari pada aku memiliki ini dan ini.’’


 


      Hadits riwayat muslim nomor 5027 ini menjelaskan tentang Rasulullah yang melontarkan tebakan kepada sahabat tentang perumpamaan orang mukmin bagaikan pohon yang daunnya tidak gugur. Rasulullah menanyakan pohon apakah yang dimaksud. Pada saat itu Abdullah bin Dinar malu untuk menjawabnya sehingga Umar mengatakan padanya bahwa lebih baik ia mengatakannya.


      Terjalinnya komunikasi interpersonal terkadang perlu dalam berdakwah. Tujuannya adalah agar mad’u tidak merasa bosan dan tetap tertarik untuk mendengarkan pesan dakwah. Metode teka – teki seperti yang Rasulullah ajarkan ini sangat perlu diimplementasikan bagi para da’i. Komunikasi interpersonal juga dapat menumbuhkan rasa kedekatan antara da’i dan mad’u yang dapat mempermudah da’i untuk menyampaikan pesan dakwah. Berdakwah bukan selalu harus komunikasi satu arah dari arah da’i saja. Interaksi dengan mad’u juga sangat diperlukan.


 


4. Memperhatikan Kondisi Objek Dakwah ; HR. Muslim No.713


     صحيح مسلم ٧١٣: و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَضِبَ فِي مَوْعِظَةٍ قَطُّ أَشَدَّ مِمَّا غَضِبَ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي 


      شَيْبَةَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ وَوَكِيعٌ قَالَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا




سُفْيَانُ كُلُّهُمْ عَنْ إِسْمَعِيلَ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ بِمِثْلِ حَدِيثِ


Shahih Muslim 713 : Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Abi Khalid dari Qais dari Abu Mas'ud al-Anshari dia berkata, "Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seraya berkata, 'Aku mengundurkan diri dari shalat shubuh karena (tindakan) fulan berupa memanjang-manjangkan shalat dalam mengimami kami.' Tidaklah aku melihat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam marah dalam suatu nasihat satu kali pun daripada kemarahannya pada waktu itu, seraya beliau bersabda, 'Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada yang membuat lari orang lain. Siapapun di antara kalian mengimami manusia, maka hendaklah dia meringkasnya, karena di belakangnya ada orang yang sudah tua, lemah, dan orang yang memiliki hajat'." Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Husyaim dan Waki' dia berkata, (Lewat jalur periwayatan lain) dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Bapakku (Lewat jalur periwayatan lain) dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan semuanya meriwayatkan dari Ismail dalam isnad ini semisal hadits Husyaim.


     


Hadits ini mengandung metode dakwah Nabi yang selalu memperhatikan kondisi objek dakwah atau mad’u. Sudah tertera di dalam hadits bahwa ada seorang sahabat yang mundur dari barisan jamaah shalat subuh dikarenakan imam tersebut memanjangkan shalatnya. Kemudian Rasulullah mengatakan kepada sang imam agar tidak memanjangkan shalatnya karena makmumnya tidak hanya terdiri dari anak muda yang kuat beribadah, namun juga ada orang tua yang lemah, orang yang memiliki hajat, dan kondisi-kondisi mad’u yang lain.


Dalam hal ini Rasulullah menunjukkan bahwa shalat yang dipanjangkan itu diperbolehkan namun ketika menjadi imam, hendaknya sebelum memulai shalat ia harus paham bahwa kondisi para makmum yang mengikutinya berbeda-beda sehingga keinginannya memanjangkan shalat tidak dianjurkan.


Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa dalam berdakwah hendaknya menyesuaikan dengan objek dakwah baik dalam hal materi, metode penyampaian, media, cara dakwah, dan lain-lain. Hal ini sangat berpengaruh agar da’i dapat menentukan cara untuk menyampaikan dakwahnya dan juga untuk memilih pesan dakwah yang disampaikan akan berhasil diterima oleh mad’u.


Penutup


            Cara dalam berdakwah dibagi menjadi beberapa metode, salah satunya adalah metode mauidhah. Metode mauidhah nabi dalam berdakwah merupakan salah satu metode yang bisa dicontoh oleh umat islam dalam berdakwah. Metode dakwah mauidhah bisa diartikan sebuah pesan, bimbingan, ataupun nasehat yang akan diberikan kepada mad’u. Metode – metode mauidhah yang digunakan nabi sudah dijelaskan dalam beberapa hadits. Metode – metode tersebut terdiri dari pengulangan, pemisalan, teka – teki dan juga memperhatikan kondisi objek dakwah. Hadits – hadits tersebut sudah diteliti dan ditakhrij dengan hasil akhir merupakan hadits yang shahih dengan tidak ada sanad yang cacat dan juga terbukti bersambung pada Rasulullah. Maka dari itu, seluruh umat muslim terutama para da’i diharapkan bisa mengimplementasikan metode – metode dakwah mauidhah nabi ini dalam berdakwah agar pesan yang disampaikan bisa berhasil diterima oleh mad’u


 


Daftar Pustaka


Aripudin, Acep. 2011, Pengembangan Metode Dakwah: Respons Da’i Terhadap Dinamika Kehidupan Di Kaki Ciremai, Rajawali Pers, Jakarta.


Fernando, Nofri. 2019, Metode Dakwah Rasulullah Periode Madinah, Curup.


Munir, M. 2009, Metode Dakwah, Kencana, Jakarta.


Mustafa Yaqub, Ali. 2000, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, Jakarta: Pustaka Firdaus.


Saputra, Wahidin. 2011, Pengantar Ilmu Dakwah, Rajagrafindo Persada, Jakarta.


Sukayat, Tata. 2009, Quantum Dakwah. Jakarta: Rineka Cipta.


Suprapta, Munzier. 2006, Metode Dakwah, Jakarta: Prenada Media.



[1] Munzier Suprapta, 2006, Metode Dakwah, Jakarta: Prenada Media, h. 11.


[2] Nofri Fernando, 2019, Metode Dakwah Rasulullah Periode Madinah, Curup, hlm. 4


[3] M. Munir, 2009, Metode Dakwah, Kencana, Jakarta, hlm. 6


[4] Wahidin Saputra, 2011, Pengantar Ilmu Dakwah, Rajagrafindo Persada, Jakarta, hlm. 251


[5] Tata Sukayat, 2009, Quantum Dakwah, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 42


[6] M. Munir, 2009, Metode Dakwah, Kencana, Jakarta, hlm. 243


[7] Tata Sukayat, 2009, Quantum Dakwah, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 42


[8] Acep Aripudin, 2011, Pengembangan Metode Dakwah: Respons Da’i Terhadap Dinamika Kehidupan Di Kaki Ciremai, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 100


[9] Ali Mustafa Yaqub, 2000, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. ke2



Komentar