STUDI FENOMENA KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF STRATIFIKASI SOSIAL
Makhyudiin Syaafi’ Musyaffa’
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Email: 04020121048@student.uinsby.ac.id
Abstract
Stratification is a natural social reality for each individual in a hierarchy of status classification as a particular social system into layers that refer to various dimensions and are based on various rights, authorities, and obligations attached to their social status. The Islamic perspective views that victory over someone's pressure will emerge except on the basis of purely religious (religious) aspects, so that it does not appear in groups or groups such as groups, but not individually or individually. collectively, as well as individual and social worshipers based on transcendental values either vertically, horizontally or diagonally as norms or basic values in living life.
Keywords: stratification, da'wah
Abstrak
Stratifikasi merupakan realitas sosial alamiah bagi setiap individu dalam suatu hierarki klasifikasi status sebagai suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan yang mengacu pada berbagai dimensi dan didasarkan pada berbagai hak, wewenang, dan kewajiban yang melekat pada status sosialnya. Perspektif Islam memandang bahwa kemenangan atas tekanan seseorang tidak akan muncul kecuali atas dasar aspek agama (keagamaan) belaka, sehingga tidak tampak dalam kelompok atau golongan seperti marga, kelompok ras, melainkan lebih menekankan pada kepribadiannya, baik secara individu maupun kelompok. kolektif, maupun sebagai pemuja individu dan sosial yang didasarkan pada nilai-nilai transendental baik secara vertikal, horizontal maupun diagonal sebagai norma atau nilai dasar dalam menjalani kehidupan.
Kata kunci: stratifikasi, dakwah
Pendahuluan
Dakwah (penyiaran Islam) merupakan misi penyebaran Islam sepanjang sejarah dan sepanjang zaman. Kegiatan dakwah dilakukan melalui lisan (bil lisan), tulisan (bil kitabah), dan perbuatan (bil hal). Secara etimologi kata dakwah berasal dari bahasa Arab دعوة – يدعو – دعا yang berarti menyeru, memanggil, mengajak, mengundang, meminta tolong, memohon, meminta, menamakan, mendesak, menimbulkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi, serta meratapi (Ali Aziz, 2004)
Stratifikasi sosial adalah penggolongan masyarakat ke dalam kelas yang bisa disusun secara bertingkat. Stratifikasi sosial disebut juga lapisan antar masyarakat. Kata stratifikasi berasal dari stratum yang artinya lapisan, sedangkan sosial bermakna masyarakat. Penggolongan masyarakat ini bisa menimbulkan kelas-kelas sosial, seperti sosial atas (upper class), sosial menengah (middle class), dan kelas bawah (lower class).
Dalam islam, faktor penyebab stratifikasi sosial, bukan saja karena faktor ekonomi, tingkat pendidikan, sumber daya manusia, suku, bangsa, tetapi faktor keislaman, keimanan, pengamalan agama dan etos kerja. Munculnya perbedaan kelas dalam masyarakat Arab disebabkan oleh perbedaan status sosial, etnis, suku, bangsa, dan tingkat ekonomi. Ada tiga aspek karakteristik stratifikasi sosial yaitu pertama, perbedaan tingkat kemampuan masyarakat. Kedua, perbedaan dalam gaya hidup. Ketiga, perbedaan dalam hak dan akses untuk memanfaatkan sumber daya.
Oleh karena itu dalam artikel ini akan mengacu terhadap pembahasan di atas yakni “studi fenomena komunikasi penyiaran islam dalam perspektif stratifikasi sosial”
Isi
Pengertian Stratifikasi Sosial
Stratifikasi Sosial atau bisa disebut juga dengan lapisan antar masyarakat adalah pengelompokkan masyarakat yang dapat disusun secara bertingkat. Kata stratifikasi sosial berasal dari dua kata yakni stratatifikasi dan sosial,. Kata stratifikasi berasal dari kata stratum yang memiliki arti lapisan, sedangkan kata sosial memiliki arti yakni masyarakat. Berikut beberapa pengertian stratifikasi sosial menurut bebrapa ahli:
Pitirim A. Sorokin, beliau berpendapat bahwa stratifikasi sosial adalah sesuatu yang khas yang terdapat pada setiap kelompok sosial yang teratur.
Robert MZ. Lawang, stratifikasi sosial merupakan pengelompokkan manusia yang termasuk pada sistem sosial tertentu ke dalam suatu lapisan tingkatan berdasarkan dimensi kekuasaan, hak, dan kewibawaan seseorang
Bruce J. Cohen, mendefininisikan stratifikasi sosial adalah suatu sistem yang menugaskan seseorang berdasarkan pada suatu kualitas yang dipunyai dan menempatkan merekan itu pada lapisan kelas yang sesuai dengan penempaannya.
dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah suatu pengelompokkan yang ada dalam masyarakat, yang pengelompokkannya berdasarkan pada tingkat kekuasaan, pengaruhnya pada sustu tatanan kemasyarakatan di daerah mereka.
Dasar-Dasar Pembentukan Pelapisan Sosial
Proses terbentunknya stratifikasi sosial terjadi melalui dua cara; (1) terjadi secara alamiah selaras dengan pertumbuhan masyarakat, dan (2) terjadi secara disengaja atau direncanakan manusia. Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut:
Ukuran kekayaan adalah kepemilikan harta benda seseorang dilihat dari jumlah materiil saja. Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah.
Ukuran kekuasaan dan wewenang adalah kepemilikan kekuatan atau power seseorang dalam mengatur dan menguasai sumber produksi atau pemerintahan. Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan.
Ukuran kehormatan dapat diukur dari gelar kebangsawanan atau dapat pula diukur dari sisi kekayaan materiil. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor.
Macam – Macam Stratifikasi Sosial
Dalam keilmuan sosiologi mengklasifikasikan setidaknya ada dua jenis stratifikasi sisoal yakni :
Stratifikasi Terbuka Stratifikasi sosial terbuka cirinya adalah setiap masyarakat memiliki sebuah kesempatan untuk naik level dalam tatanan kemasyarakatan, saling memberikan sebuah contoh kepada masyarakat yang bertujuan untuk mengembangkan berbagai macam keahliannya, dan meraka menggunakan usaha dan kemampuan anggota masyarakat itu sendiri.
Stratifikasi Tetutup Pada stratifikasi tertutup ini masyarakat sangat terbatas untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lainnya. Yang sebagai contohnya adalah masyarakat yang menganut sistem kasta, masyarakat yang selalu memandang sebuah fisik seseorang untuk ukuran lapisan seseorag, dan lain – lain.
Stratifikasi Campuran Dalam sistemcampuran ini dapat kita lihat pada masyarakat yang beberapa hal mereka menggunakan sistem terbuka dan ada beberapa hal yang menjadikan mereka menggunakan sistem stratiikasi tertutup.
Menurut pendapat dari J. Milton Yinger dalam Moeis (2008), berpendapat bahwa secara teori keterbukaan suatu sistem penggolongan masyarakat diukur oleh mudah tau tidaknya, sering serta tidaknya masyarakat dalam memiliki sebuah kesempatan untuk berpindah strata, dan setiap masyarakat juga memiliki suatu kesempatan untuk tidak sama dengan kasta yang sudah dimiliki oleh kedua orang tuannya. Sedangkan stratifikasi tertutup memiliki ciri yakni keadaan apabila seseorang tidak berubah kastanya atau kastanya sama dengan orang tuannya
Terjadinya Stratifikasi Sosial
Pelapisan sosial bisa terjadi secara sengaja maupun tidak ( Singgih, 2007 ):
Pelapisan masyarakat yang terjadinya secara sendiri meliputi, umur, kepandaian, kekerabatan, dan jenis kelamin.
Pelapisan sosial yang sengaja dibentuk meliputi stratifikasi ekonomi, dan stratifikasi pekerjaan.
Islam dan stratifikasi sosial dalam masyarakat
Dalam pandangan islam, stratifikasi sosial dianggap sebagai sunnatullah atau hukum alam sebagai fakta empiris yang ditakdirkan oleh Allah terhadap umat manusia. Konsep kelas sosial dalam islam lebih mengarah kepada keadilan sosial. Orang yang mampu atau golongan kaya yang dapat merealisasikan keadilan sosial dipandang sebagai ibadah dan jihad. Salah satu upaya islam untuk memperkecil kesenjangan sosial yang terjadi yaitu dengan menerapkan konsep zakat.
Zakat bukanlah pemberian maupun kebaikan orang yang kaya terhadap fakir atau miskin. Zakat melainkan kewajiban secara teologis maupun politis. Sistem sosial yang dibangun islam bersifat dinamis, yaitu membentik kerjasama satu sama lain, saling membantu dan tidak membentuk iklim sosial yang tidak sehat terutama pada golongan kaya dengan golongan fakir dan miskin. Dengan demikian terbentuklah struktur sosial yang adil diantara sesama umat Islam sehingga kaum yang tidak mampu secara ekonomi tersahuti kepentingannya.
stratifikasi sosial dalam islam lebih mengarah kepada keadilan sosial. Dimana golongan kaya wajib membantu golongan fakir dan miskin. Salah satu upaya agar tidak terjadi kesenjangan sosial yaitu dengan menerapkan konsep zakat. Zakat tersebut dimaksudkan sebagai kewajiban untuk semua masyarakat. Al-qur'an secara tegas menyerukan kepada orang yang mampu secara ekonomi, kekuasaan dan kehormatan tidak hanya berada di tangan orang-orang yang berpunya saja tetapi juga harus menjadi milik orang yang tidak mampu. Meskipun islam mengakui adanya kelas-kelas sosial, kelas-kelas tersebut tidak sama hal nya dengan kelas sosial yang ada di Barat ataupun Yunani. Sekalipun ada konsep tersebut, islam lebih mengarah kepada terciptanya keadian sosial. Sistem sosial yang dibangun oleh islam bersifat dinamis yaitu membentuk kerjasama satu sama lain, saling membantu, dan tidak menyekat antara golongan kaya dengan golongan fakir dan miskin. Islam sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya agar senantiasa terhindar dari adanya konflik.
Perspektif Islam memandang bahwa kemenangan atas tekanan seseorang tidak akan muncul kecuali atas dasar aspek agama (keagamaan) belaka, sehingga tidak tampak dalam kelompok atau golongan seperti marga, kelompok ras, melainkan lebih menekankan pada kepribadiannya, baik secara individu maupun kelompok. kolektif, maupun sebagai pemuja individu dan sosial yang didasarkan pada nilai-nilai transendental baik secara vertikal, horizontal maupun diagonal sebagai norma atau nilai dasar dalam menjalani kehidupan. Pada dasarnya pendidikan Islam (sumber atau dasar ajaran Islam) tidak mengenal adanya lapisan, golongan atau golongan (stratifikasi) dalam lingkungan sosialnya, kecuali diinternalisasikan oleh nilai-nilai ajaran Islam, seperti Taqwa, Ilmu dan Amal, Tingkat Ilmiah. pengetahuan (kecerdasan). Pandangan pendidikan Islam tidak melihat dari sudut pandang tetapi melihat dari aspek spiritual. Hal ini akan bermuara pada nilai-nilai ajaran Islam yang membentuk kesalehan individu, sekaligus kesalehan sosial
Kesimpulan
Beberapa aspek terbentuknya stratifikasi sosial pada masyarakat yaitu adanya perbedaan atas beberapa unsur yang mengacu pada sesuatu yang memiliki harga (dihargai) menurut kriteria tertentu yang dominan dalam perkembangan yang terjadi yang dianggap tidak seimbang dalam melakukan hubungan sosial yang bersifat interdependensi (saling ketergantungan) antar individu dalam masyarakat, sehingga hal tersebut sering disebut sebagai akibat dari adanya kesenjangan sosial.
Perspektif Islam memandang, kemenangan tekanan seseorang tidak akan nampak kecuali dengan berlandaskan aspek religius (agama) semata, sehingga tidak nampak dalam kelompok atau kelas seperti marga, suku ras, akan tetapi lebih menekankan kepribadiannya, baik secara individual atau kolektif, atau sebagai shaleh secara individual maupun sosial yang berdasarkan nilai-nilai transendental baik secara vertikal, horizontal, maupun diagonal sebagai norma atau nilai-nilai pokok yang dalam menjalani kehidupan.
Daftar Pustaka
Fajri Dwi Latifatul.“ Pengertian Stratifikasi Sosial, Fungsi, Fifat, dan contohnya”. https://katadata.co.id/intan/berita/61b701fddfc2d/pengertianstratifikasi-sosial-fungsi-sifat-dan-contohnya. (diakses pada 2 Juli 2022)
Gumilang Muhammad Akbar, Stratifikasi Sosial. Makalah, Depok : Universitas Indonesia
Grusky, David B.ed. (1994). Social Strtification, Class, Race And Gender; Boulder-San Fransisco-Oxford: Westview Press
Maunah, B. (2015). Stratifikasi Sosial dan Perjuangan Kelas dalam Perspektif Pendidikan Sosiologi. TA'ALLUM, 19-38.
Moeis. (2008). Struktur Sosial: Stratifikasi Sosial. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
Singgih, D. S. (2007). Prosedur Analisis Stratifikasi Sosial dalam Perspektif Sosiologi. Masyarakat, Kebudayaan, dan Politik, 11-22.
Widianti, Wida (2009). Sosiologi 2 untuk SMA dan MA kelas XI IPS. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Wrahatnala, Bondet (2009). Sosiologi jilid 2 untuk SMA dan MA kelas XI . Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Komentar
Posting Komentar