STRATIFIKASI SOSIAL

 


Makhyudiin Syaafi’ Musyaffa’

Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

04020121048@student.uinsby.ac.id

Pendahuluan

Stratifikasi sosial adalah penggolongan masyarakat ke dalam kelas yang bisa disusun secara bertingkat. Stratifikasi sosial disebut juga lapisan antar masyarakat. Kata stratifikasi berasal dari stratum yang artinya lapisan, sedangkan sosial bermakna masyarakat. Penggolongan masyarakat ini bisa menimbulkan kelas-kelas sosial, seperti sosial atas (upper class), sosial menengah (middle class), dan kelas bawah (lower class).

 

Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi Sosial atau bisa disebut juga dengan lapisan antar masyarakat adalah pengelompokkan masyarakat yang dapat disusun secara bertingkat. Kata stratifikasi sosial berasal dari dua kata yakni stratatifikasi dan sosial,. Kata stratifikasi berasal dari kata stratum yang memiliki arti lapisan, sedangkan kata sosial memiliki arti yakni masyarakat.1 [1]Berikut beberapa pengertian stratifikasi sosial menurut bebrapa ahli :

  1. Pitirim A. Sorokin, beliau berpendapat bahwa stratifikasi sosial adalah sesuatu yang khas yang terdapat pada setiap kelompok sosial yang teratur. 
  2. Robert MZ. Lawang, stratifikasi sosial merupakan pengelompokkan manusia yang termasuk pada sistem sosial tertentu ke dalam suatu lapisan tingkatan berdasarkan dimensi kekuasaan, hak, dan kewibawaan seseorang.
  3. Bruce J. Cohen, mendefininisikan stratifikasi sosial adalah suatu sistem yang menugaskan seseorang berdasarkan pada suatu kualitas yang dipunyai dan menempatkan merekan itu pada lapisan kelas yang sesuai dengan penempaannya.

Jadi, dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah suatu pengelompokkan yang ada dalam masyarakat, yang pengelompokkannya berdasarkan pada tingkat kekuasaan, pengaruhnya pada sustu tatanan kemasyarakatan di daerah mereka. 

Dasar-Dasar Pembentukan Pelapisan Sosial

            Proses terbentunknya stratifikasi sosial terjadi melalui dua cara; (1) terjadi secara alamiah selaras dengan pertumbuhan masyarakat, dan (2) terjadi secara disengaja atau direncanakan manusia.[2]Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut:

  • Ukuran kekayaan adalah kepemilikan harta benda seseorang dilihat dari jumlah materiil saja.[3] Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja,serta kemampuannya dalam berbagi kepada sesama
  • Ukuran kekuasaan dan wewenang adalah kepemilikan kekuatan atau power seseorang dalam mengatur dan menguasai sumber produksi atau pemerintahan. Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
  • Ukuran kehormatan dapat diukur dari gelar kebangsawanan atau dapat pula diukur dari sisi kekayaan materiil. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
  • Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.

 

Macam – Macam Stratifikasi Sosial

Dalam keilmuan sosiologi mengklasifikasikan setidaknya ada dua jenis stratifikasi sisoal yakni :

  1. Stratifikasi Terbuka

Stratifikasi sosial terbuka cirinya adalah setiap masyarakat memiliki sebuah kesempatan untuk naik level dalam tatanan kemasyarakatan, saling memberikan sebuah contoh kepada masyarakat yang bertujuan untuk mengembangkan berbagai macam keahliannya, dan meraka menggunakan usaha dan kemampuan anggota masyarakat itu sendiri. 

2.                  Stratifikasi Tetutup

Pada stratifikasi tertutup ini masyarakat sangat terbatas untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lainnya. Yang sebagai contohnya adalah masyarakat yang menganut sistem kasta, masyarakat yang selalu memandang sebuah fisik seseorang untuk ukuran lapisan seseorag, dan lain – lain. 

3.                  Stratifikasi Campuran

Dalam sistemcampuran ini dapat kita lihat pada masyarakat yang beberapa hal mereka menggunakan sistem terbuka dan ada beberapa hal yang menjadikan mereka menggunakan sistem stratiikasi tertutup. 

Menurut pendapat dari J. Milton Yinger dalam Moeis (2008), berpendapat bahwa secara teori keterbukaan suatu sistem penggolongan masyarakat diukur oleh mudah tau tidaknya, sering serta tidaknya masyarakat dalam memiliki sebuah kesempatan untuk berpindah strata, dan setiap masyarakat juga memiliki suatu kesempatan untuk tidak sama dengan kasta yang sudah dimiliki oleh kedua orang tuannya. Sedangkan stratifikasi tertutup memiliki ciri yakni keadaan apabila seseorang tidak berubah kastanya atau kastanya sama dengan orang tuannya.[4]

Unsur – Unsur Stratifikasi Sosial

  1. Status atau Kedudukan

Dapat kita definisikan sebagai posisi seorang dalam suatu kelompok masyarakat namun cakuppannya sedikit. Status ini masih dikelompokkan menjadi tiga jenis yakni :

a.                   Ascribe Status,adalah tempat seseorang dalam suatu masyarakat tanpa melihat perbedaan supernatural serta kemampanan, dan diperoleh dalam kelahiran.

b.                  Achieved Status, kedudukan yang diperoleh oleh seseorang yang telah ia capai karena sebuah usaha serta kempuannya yang didapatkan secara sengaja serta tidak bawaan lahir, dan terbukan bagi siapapun.

c.                   Assigned Status, adalah sebuah kedudukan yang diberikan dengan berbagai alasan sehingga kedudukannya lebih tinggi dari pada sebelumnya. 

Gambaran status yang sedang didiami oleh seseorang dapat kita lihar dari ciri khasnya, yang dalam sosiologi bisa disebut dengan symbol status. Contoh dari symbol status adalah cara memilih pergaulan, gaya berbusana, gaya berbicara dan lain sebagainya yang bisa membedakannya dari orang lain. 

2.                  Peranan 

Peranan atau yang bisa kita sebut sebagai role adalah suatu sudut pandang dimana seseorang dapat melakukan hak serta kewajibannya yang sesuai dengan posisinya. Menurut Singgih ( 2007 ) peranan dapat memuat tiga aspek yakni peranan harus mencakup norma – norma yang berhubungan dengan tempat individu di dalam masyarakat, peranan adalah sebuah konsep tentang apa yang dilakukan olrh seseorang dalam masyarakat sebagai suatu organisasi, dan peranan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang yang peranannya penting untuk struktur sosial. 

 

Terjadinya Stratifikasi Sosial

Pelapisan sosial bisa terjadi secara sengaja maupun tidak ( Singgih, 2007 ):

a.                   Pelapisan masyarakat yang terjadinya secara sendiri meliputi, umur, kepandaian, kekerabatan, dan jenis kelamin.

b.                  Pelapisan sosial yang sengaja dibentuk meliputi stratifikasi ekonomi, dan stratifikasi pekerjaan.  




 











DAFTAR PUSTAKA

 

Fajri Dwi Latifatul.“ Pengertian Stratifikasi Sosial, Fungsi, Fifat, dan               

contohnya”. https://katadata.co.id/intan/berita/61b701fddfc2d/pengertian-stratifikasi-sosial-fungsi-sifat-dan-contohnya. (diakses pada 18 juni 2022)

 

Gumilang Muhammad Akbar, Stratifikasi Sosial. Makalah, Depok :

Universitas Indonesia

 

Grusky, David B.ed. (1994). Social Strtification, Class, Race And Gender;

Boulder-San Fransisco-Oxford: Westview Press

Maunah, B. (2015). Stratifikasi Sosial dan Perjuangan Kelas dalam

Perspektif Pendidikan Sosiologi. TA'ALLUM, 19-38.

 

Moeis. (2008). Struktur Sosial: Stratifikasi Sosial. Bandung: Universitas

Pendidikan      Indonesia

 

Singgih, D. S. (2007). Prosedur Analisis Stratifikasi Sosial dalam

Perspektif        Sosiologi. Masyarakat, Kebudayaan, dan Politik, 11-22.

Widianti, Wida (2009). Sosiologi 2 untuk SMA dan MA kelas XI IPS.  

Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Wrahatnala, Bondet (2009). Sosiologi jilid 2 untuk SMA dan MA kelas XI .

Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

           

 



[1] Dwi Latifatul Fajri, “ Pengertian Stratifikasi Sosial, Fungsi, Fifat, dan Contohnya “,https://katadata.co.id/intan/berita/61b701fddfc2d/pengertian-stratifikasi-sosial-fungsi-sifat-dan-contohnya

[2] Widianti, Wida (2009). Sosiologi 2 untuk SMA dan MA kelas XI IPS Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 3

[3] Wrahatnala, Bondet (2009). Sosiologi jilid 2 untuk SMA dan MA kelas XI Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 19

[4] Moeis.(2008). Struktur Sosial: Stratifikasi Sosial. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Komentar